Minyak Atsiri

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam. Berbagai jenis tanaman dapat ditemukan di Indonesia. Di Indonesia terdapat banyak tanaman penghasil minyak atsiri, sehingga Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor minyak atsiri terbesar di dunia. Akan tetapi, Indonesia masih mengimpor minyak atsiri dari negara lain. Impor minyak atsiri yang masih tinggi antara lain disebabkan teknologi pengolahan minyak atsiri di Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan teknologi di negara lain yang telah maju pesat. Umumnya petani minyak atsiri masih menerapkan teknologi hulu dan bersifat tradisional, sehingga belum mampu menjamin kontinuitas pengadaan produk dengan mutu yang konsisten. Oleh karena itu, perlu dipelajari dan diterapkan cara – cara dan teknologi dalam mendapatkan mutu minyak atsiri yang berkualitas.

Untuk mendapatkan minyak atsiri dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu penyulingan, pengepresan, ekstrasi dengan pelarut menguap dan ekstrasi dengan lemak padat (enfleurasi). Penyulingan adalah suatu proses pemisahan secara fisik suatu campuran dua atau lebih produk yang mempunyai titik didih yang berbeda, dengan cara mendidihkan terlebih dahulu komponen yang mempunyai titik didih rendah terpisah dari campuran. Dalam industri minyak atsiri dikenal tiga macam penyulinagn yaitu, penyulinagan dengan air, penyulingan dengan air – uap, dan penyulingan dengan uap langsung.

Selain dengan penyulingan minyak atsiri dapat didapatkan dengan cara adsorbsi oleh lemak padat ( enfleurasi ). Pada proses ini, adsorbsi minyak atsiri oleh lemak dilakukan pada suhu dingin, sehingga tidak merusak minyak yang disebabkan oleh panas. Proses enfleurasi menghasilkan rendemen yang lebih tinggi dibandingkan dengan metode lainnya, namun prosesnya lebih lama dan membutuhkan tenaga kerja yang trampil dan berpengalaman.

Minyak atsiri merupakan suatu minyak yang mudah menguap (volatile oil) biasanya terdiri dari senyawa organik yang bergugus alkohol, aldehid, keton dan berantai pendek. Minyak atsiri dapat diperoleh dari penyulingan akar, batang, daun, bunga, maupun biji tumbuhan, selain itu diperoleh juga terpen yang merupakan senyawa hidrokarbon yang bersifat tidak larut dalam air dan tidak dapat disabunkan. Beberapa contoh minyak atsiri yaitu minyak cengkeh dan minyak nilam.

Dalam industri minyak atsiri dikenal 3 macam metode penyulingan, yaitu penyulingan dengan air (water destilation), penyulingan dengan air dan uap (water and steam destilation) dan penyulingan dengan uap langsung ( steam destilation).

Minyak atsiri diperoleh dengan cara penyulingan menggunakan uap (hidrodestilasi) yang bertujuan memisahkan minyak atsiri dari tanaman aromatik dengan jalan memasukkannya ke dalam ketel penyuling kemudian ditambahkan sejumlah air dan dididihkan, atau uap panas dialirkan ke dalam alat penyuling tersebut. Campuran uap yang terdiri dari uap air dan uap minyak selanjutnya akan mengalir menuju kondensor untuk dicairkan kembali dengan sistem pendinginan dari luar. Kondensat yang keluar dari kondensor ditampung dalam tabung pemisah (dekanter) agar terjadi pemisahan (dekantasi) antara minyak atsiri dan air suling (Sastrohamidjojo, 2004).

Nilam (Pogostemon cablin, Benth) termasuk tanaman dari famili Labiatae. Famili ini memiliki sekitar 200 genus, yang satu diantaranya adalah Pogostemon. Genus ini diperkirakan memiliki sekitar 40 spesies, yang salah satunya adalah Pogostemon cablin,Benth. Secara geografis, tanaman yang termasuk semak dengan tinggi mencapai 1 meter ini tersebar luas di Asia Tenggara. Meskipun kualitas nilam terbaik ada di Indonesia, tetapi asal nilam diduga dari Filipina. Nilam dari Filipina tersebut lantas ditanam dan berkembang di berbagai negara, diawali dari Singapura, kemudian berkembang di Indonesia (Pulau Sumatera), Madagakar, hingga Brasil.

Minyak nilam dihasilkan melalui proses penyulingan, sebelum proses penyulingan biasanya dilakukan perlakuan pendahuluan terhadap bahan yang akan disuling. Perlakuan tersebut dapat dengan beberapa cara yaitu dengan pengecilan ukuran, pengeringan atau pelayuan dan fermentasi (Ketaren, 1985). Proses tersebut perlu dilakukan karena minyak atsiri di dalam tanaman dikelilingi oleh kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh, kantong minyak atau rambut gladular. Apabila bahan dibiarkan utuh, kecepatan pengeluaran minyak hanya tergantung dari proses difusi yang berlangsung sangat lambat (Guenther, 1948).

Pengecilan ukuran bahan biasanya dilakukan dengan pemotongan atau perajangan. Perlakuan ini bertujuan agar kelenjar minyak dapat terbuka sebanyak mungkin sehingga memudahkan pengeluaran minyak dari bahan dan mengurangi sifat kamba bahan tersebut. Namun demikian bahan berupa bunga seperti melati dan daun seperti kayu putih dapat langsung disuling tanpa pengecilan bahan terlebih dahulu karena sifatnya bahannya lebih mudah pengeluaran minyak dari jaringan (Ketaren, 1985).

Pengolahan minyak nilam dilakukan dengan proses destilasi. Proses destilasi adalah suatu proses perobahan minyak yang terikat di dalam jaringan parenchym cortex daun, batang dan cabang tanaman nilam menjadi uap ke-mudian didinginkan sehingga berubah kembali menjadi zat cair yaitu minyak nilam. Penyulingan minyak nilam dapat dilakukan dengan menggunakan pipa pendingin yang model belalai gajah atau model bak diam. Pemilihan sistem pipa pendingin ini tergantung di lokasi mana alat akan ditempatkan. Pada daerah-daerah yang airnya sulit atau permukaan air tanahnya rendah, maka model bak diam adalah yang terbaik. Ketel alat suling yang banyak digunakan di tingkat petani adalah dari drum bekas dan pipa pendinginnya dari besi yang dimasukkan kedalam bak atau saluran air.

Perkembangan teknologi pengolahan minyak nilam di negara-negara maju sudah demikian pesatnya, namun Indonesia belum mampu mengikuti perkembangan tersebut. Pemacuan industri minyak nilam sangat diperlukan. Desain peralatan yang memenuhi standar yang lebih baik akan meningkatkan rendemen dan kualitas produk, meskipun harga peralatan relatif lebih mahal, akan tetapi untuk jangka panjang akan lebih murah dan menguntungkan (Harfizal, 2002).

Kualitas minyak cengkeh dievaluasi berdasarkan kandungan fenolnya terutama eugenol. Karena minyak cengkeh mengandung beberapa aseteugenol, maka sering dilakukan penyabunan zat tersebut terlebih dahulu untuk mendapatkan kandungan eugenol yang lebih tinggi. Kandungan fenol cengkeh tergantung pada kondisi dan jenis bahan baku cengkeh dan metode penyulingan.

Pada waktu penyulingan minyak cengkeh terdapat dua fraksi yaitu fraksi yang lebih ringan dari air dan fraksi yang lebih berat dari air. Dengan menggabungkan kedua fraksi tersebut dihasilkan minyak cengkeh yang lengkap. Hasil minyak dari penyulingan bunga cengkeh sekitar 17-18%, penyulingan dari gagang cengkeh sekitar 6% dan dari daun sekitar 2-3% (Guenther, 1990).

Salah satu cara pemisahan atau pemurnian komponen minyak adalah dengan destilasi fraksional. Destilasi fraksinasi minyak atsiri adalah pemisahan komponen berdasarkan titik didih dan berat molekulnya (Vogel 1958). Sedangkan menurut Guenther (1990), Fraksinasi minyak atsiri adalah pemisahan minyak atsiri menjadi beberapa fraksi berdasarkan perbedaan titik didihnya. Sebaiknya minyak atsiri tidak difrakasinasi pada tekanan atmosfir, tetapi dalam keadaan vakum karena tekanan tinggi dan suhu tinggi dapat mengakibatkan dekomposisi dan resinifikasi, sehingga destilat mempunyai bau dan sifat fisiko kimia yang berbeda dengan minyak murni.

 

Sumber :Melati Eka P., Laporan Pratikum, Unsoed, 2011

 

Leave a Reply