Mendidik Anak Tentang Emosi Negatif

Mengajarkan anak, kangmalik

Ilustrasi anak sedih dibantu ibu. (sumber: Radius/Visualphotos)

Setiap orang tua secara umum mempunyai keinginan tentang masa depan sang buah hati, wajar jika orang tua mendidik anak secara formil maupun informal. Pada masa pertumbuhan, orang tua sebaiknya mendampingi dan mendidik dengan berbagai macam hal, seperti agama, budi pekerti, moral, perilaku yang baik dan masih banyak lagi. Dari berbagai macam hal tersebut, ada salah satu yang perlu diperhatikan, yaitu memberi pengajaran kepada anak tentang emosi negatif.

Emosi-emosi negatif akan dirasakan anak di suatu titik dalam hidupnya. Mereka harus belajar menghadapinya.

Betsy Brown Braun, spesialis perkembangan anak asal Amerika Serikat mengatakan, masih banyak orangtua yang belum cukup memerhatikan dan mempersiapkan anak untuk menghadapi emosi negatif.
Kebanyakan orangtua dan sekolah mengajar anak untuk merasa bahagja senantiasa, sehingga kurang mengajarkan apa dan bagaimana menghadapi rasa marah, sedih, kesal, dan ketidakbahagiaan lainnya.

Padahal, menurut Braun, emosi-emosi negatif adalah bagian dari perasaan manusia yang akan ditemui pada suatu titik dalam hidup juga.

Sering ditemui Braun, orangtua mengabaikan perasaan anak yang sedang sedih atau tidak bahagia dengan mengalihkan perhatian anak, atau dengan menghapus hal-hal yang membuat si kecil tidak bahagia.

Contoh, orangtua melihat si anak menangis karena mainannya rusak saat pergi bersama. Kebanyakan orangtua akan langsung menyuruh anaknya diam dan memperbaiki mainannya supaya tangisan itu berhenti.

Hal ini, menurut pengarang buku parenting bertajuk You’re Not the Boss of Me, hanya memberi pesan dalam otak anak, “Diamlah. Kamu seharusnya bahagia dan tidak bersedih.”

Masalahnya, tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang bahagia setiap saat. Akan ada saat ia merasa tidak bahagia.

“Pengetahuan mengenai cara menghadapi emosi adalah bagian dari perkembangan yang sangat penting untuk dirajut sejak dini. Anak perlu memelajari, mengenali, menamai, dan mengakses beragam emosi yang dimiliki manusia, termasuk emosi-emosi yang kuat. Mereka harus tahu, hal-hal tersebut adalah perasaan yang normal,” jelas Braun, dikutip dari Huffington Post.

Terkait hal tersebut, berikut ini 6 tips dari Braun mengenai cara mengajarkan anak mengenal luasnya perasaan yang bisa dirasakan manusia:

1. Kenali perasaan Anda sendiri dulu
Belajar membedakan perasaan Anda dari perasaan si kecil, dan pastikan ada batasan jelas di dalamnya. Melakukan hal tersebut akan membantu Anda bertoleransi dengan emosi negatif si kecil.

2. Jangan membuat perasaannya menjadi perasaan Anda
Jadilah orang yang berempati tanpa membesar-besarkan keadaan. Kenali, akui, dan validasi perasaan si kecil. Hindari kata-kata seperti ini, “Mama kesal juga acara main kamu sama si anak tetangga itu batal”. Kalimat-kalimat seperti itu akan membuat si anak merasa bertanggung jawab atas perasaan Anda, padahal bukan itu tujuannya.

3. Ajarkan anak untuk mengenali dan menamai perasaannya
Sama seperti cara belajar bahasa baru, si kecil akan merasa lebih nyaman mengungkapkan sesuatu akan membuatnya terbiasa mengkomunikasikannya, lebih memiliki kontrol, dan tidak kebingungan menghadapinya.

4. Dukung ekspresi si anak, baik yang bersifat positif maupun negatif
Mengatakan, “Ah, masa begitu saja kamu marah?” tak hanya mengajarkan si anak untuk tidak memercayai perasaannya, tetapi juga mengatakan, perasaan negatif adalah hal yang tidak valid.

5. Tahan sebentar sebelum mencoba memperbaiki perasaan tak bahagia si anak
Anak-anak butuh belajar bagaimana menghadapi perasaan tak nyamannya sendiri. Untuk anak-anak yang sudah cukup besar, tawarkan kesediaan Anda untuk mendengar keluh kesahnya serta apakah ia butuh bantuan Anda untuk mencari jalan keluarnya. Namun, beri rentang waktu untuk ia berpikir dulu bagaimana menghadapinya. Jangan sedikit muram saja langsung dibujuk supaya bahagia lagi.

6. Puji daya tahannya
Anak-anak butuh mengalami dan belajar tentang kenyataan bahwa mereka bisa merasa lebih baik, meski saat ia sedang marah, kecewa, atau sedih, perasaan akan lebih baik itu terasa mustahil.

Di lain waktu, saat si anak sudah terlihat merasa lebih baik, ingatkan dia tentang perasaannya yang tidak nyaman saat itu dan bagaimana ia berhasil melaluinya.

Sumber : Huffington Post/ Nadia Felicia

Leave a Reply