Keserakahan Hidup

Disadur dari sebuah mailing list..

Merenung begitu banyak kejahatan yang dilakukan tersistematis yang
dilakukan oleh orang-orang berdasi yang notabene adalah orang yang
berpenghasilan luar biasa, tetapi kenapa seorang yang berpenghasilan
banyak selalu berfikir untuk menambah lagi dan lagi, walau banyak
orang mengakui kebahagian tidak datang dari banyaknya harta yang di
miliki.

Kalau kita renungkan secara mendalam, semua kejahatan yang ada di

dunia ini berasal dari satu kata: keserakahan. Dan, akar keserakahan

adalah pada cara kita memandang hidup ini. Selama kita melihat diri

kita semata-mata makhluk fisik belaka, selama itu pula kita tak dapat

membendung keinginan kita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Betapa banyaknya dalam kehidupan sehari-hari kita melihat orang yang

berpenghasilan biasa-biasa saja, tetapi memiliki harta yang luar biasa

banyaknya.

Ada banyak alasan yang dapat dikemukakan untuk merasionalkan hal itu.

Pertama, semua orang yang mendapat kesempatan pasti akan melakukannya.

Kedua, penghasilan yang saya dapatkan terlalu kecil dan tidak seimbang

dengan pengorbanan yang saya berikan. Ketiga, toh kekayaan yang saya

dapatkan tidak saya nikmati sendiri tetapi saya gunakan untuk membantu

anak yatim, membiayai orang tua dan saudara yang sedang sakit,

membangun sekolah, dan sebagainya. Dengan berbagai alasan tersebut

kita mendapatkan ”ketenangan sementara” karena seolah-olah perbuatan

yang kita lakukan telah berubah menjadi legal, rasional atau paling

tidak dapat dimaklumi.

Namun, ketenangan semacam ini tidaklah langgeng. Pasti ada sesuatu

dalam diri kita yang kembali mengusik kita, membuat kita resah dan

gelisah. Perhatikanlah orang-orang yang hidup dengan cara ini. Mereka

sangat rentan terhadap perubahan yang sekecil apapun. Mereka sangat

jauh dari ketentraman yang sejati. Betapapun banyaknya harta yang

mereka kumpulkan tak akan pernah melahirkan perasaan cukup dan puas.

Ada kisah menarik dari Willi Hoffsuemmer beliau pernah menulis kisah

tentang Smith dan guru kepala yang sedang berdiri dekat gelanggang

anak-anak, tempat anak-anak bersukaria sepuasnya. Smith bertanya

kepada guru kepala, “Mengapa terjadi bahwa setiap orang ingin bahagia,

namun sangat sedikit yang mengalaminya?” Sang guru kepala memandang ke

arah gelanggang anak-anak, lantas menjawab, “Anak-anak itu tampak

sungguh bahagia.”

Dengan agak keheranan, Smith berkata, “Sudah tentu mereka bahagia

karena satu-satunya yang mereka lakukan adalah bermain.” “Kamu benar,”

ucap sang guru, “tetapi apa yang sesungguhnya menghalangi kaum dewasa

berbahagia seperti itu juga dapat menghalangi anak-anak berbahagia.”……

Kemudian, guru kepala berkata kepada Smith, “Menurut kamu, hal apa

yang menyebabkan mereka mengakhiri kebahagiaan mereka?” Smith

menjawab, “Perkelahian!” Lanjut si guru, “Ya, tapi apa yang memicu dan

memacu perkelahian itu?” Agak tersipu-sipu dan ragu, Smith menjawab,

“Keserakahan.” Guru itu menjawab, “Bagus, kamu telah menemukan jawaban

sendiri.” (Diadaptasi dari Simon Filantropha, “Monster yang Memangsa

Diri Sendiri,” Jawa Pos, Rabu, 2 Januari 2008).

Kita hidup dalam lingkungan yang serakah. Keserakahan itu ada di

mana-mana. Ia bagaikan wabah penyakit yang menyebar di mana-mana dan

ke mana-mana. Mengapa orang menjarah kepunyaan orang yang lain? Salah

satunya pasti karena ada keserakahan dalam hati. Mengapa orang menipu

untuk mengambil uang orang lain? Salah satunya adalah karena

keserakahan. Mengapa hubungan persaudaraan bisa runtuh ketika

menyentuh soal warisan? Salah satunya pasti karena keserakahan.

Nabi Muhammad SAW berkata : “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah

emas, niscaya ingin memiliki lembah emas kedua ; seandainya ia

memiliki lembah emas kedua, ia ingin memiliki lembah emas yang ketiga.

Baru puas nafsu anak Adam kalau sudah masuk tanah. Dan Allah akan

menerima taubat orang yang mau kembali kepada-Nya.” (hadis riwayat

:Bukhori Muslim)

Pernyataan di atas menunjukkan bahwa keserakahan itu tidak ada

habisnya. Kelaparan dan kemiskinan terjadi karena adanya orang-orang

yang serakah menumpuk harta dan tidak mau membagi hartanya kepada

orang yang miskin.

Tak pantas kita hidup mewah dan mempromosikan kemewahan sementara

banyak orang miskin di sekeliling kita. Banyak anak-anak dan

balita-balita miskin yang berkeliaran di jalan untuk mencari makan.

Mereka bukan hanya menghadapi kemiskinan, tapi juga mendapat resiko

diperkosa oleh orang-orang dewasa. Harusnya dengan uang yang ada kita

membantu mereka ke luar dari kemiskinan sehingga tidak berkeliaran di

jalan mencari uang, tapi saat ini seperti semua orang berlomba mencari

harta yang banyak untuk di pamerkan ke lingkungan sekitar, sadarilah

keserakahan tidak akan membawa manfaat selain kehancuran dan

penderitaan yang tiadak

Meski kita tetap harus berusaha dalam hidup ini, namun biasakan hidup

merasa cukup dan selalu bersyukur niscaya anda akan bahagia. Orang

yang serakah dan tidak pernah merasa puas, selalu merasa ada yang

kurang dan tidak bahagia, keserakahan adalah awal dari sebuah

kejahatan yang lebih besar. Jadi hentikan keserakahan dan gaya hidup

mewah mulailah hidup sederhana dan rajin berbagi, untuk kehidupan kita

yang lebih baik, sekarang dan yang akan datang.

“Kebahagian bukan dari harta, melainkan dari hati yang menerima dan bersyukur”

Penulis : Erwin Arianto,SE

Leave a Reply