Berat Badan Naik, Bisa Jadi Tekanan Darah Ikut Naik

Tekanan Darah Bisa Naik Mengikuti Berat Badan
Ilustrasi : maliksmart.smartdetoxportal.com

Ketika seseorang mempunyai nafsu makan yang berlebih kemungkinan besar akan naik berat badannya, apalagi yang dimakannya adalah makanan yang kaya akan lemak. Sisa lemak yang dikonsumsi oleh tubuh hasil dari memakan makanan, akan disimpan dalam tubuh. Kelebihan simpanan lemak dalam tubuh pastinya akan menambah berat badan.

Efek langsung dari kenaikan berat badan mungkin akan terlihat pada kepercayaan diri seseorang. Namun rupanya kondisi ini juga menimbulkan efek pada tekanan darah seseorang lho.

Studi yang dilakukan oleh Mayo Clinic menyebutkan bahwa naik berat badan, kira-kira hingga 2 kg, dapat menempatkan seseorang pada risiko tekanan darah yang meningkat pula.

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa peningkatan tekanan darah secara khusus terkait dengan peningkatan lemak visceral, yang merupakan lemak di dalam perut,” ungkap penulis utama dari studi ini, dr Naima Covassin.

Pada awal studi yang dilakukan dalam waktu delapan pekan ini, para peneliti memonitor 24 jam tekanan darah dari 16 orang responden yang memiliki berat badan normal.

Kemudian mereka diberikan makan tambahan 400 sampai 1.200 kalori setiap hari dengan pilihan seperti es krim, cokelat, atau minuman lainnya untuk menaikkan berat badan mereka sekitar lima persen. Setelah itu, tekanan darah mereka diperika selama periode 24 jam.

Hasil pengukuran tekanan darah ini kemudian dibandingkan dengan 10 orang responden lainnya, yang berat badannya justru dipertahankan selama periode delapan pekan tersebut.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang berat badannya naik memiliki tekanan darah sistolik (angka atas) meningkat dari rata-rata 114 mmHg menjadi rata-rata 118 mmHg. Mereka yang memiliki lingkar perut lebih besar juga mengalami peningkatan tekanan darah.

dr Covassin mengatakan penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk melihat apakah hasilnya sama dalam kelompok usia yang berbeda, atau pada mereka yang memiliki riwayat keluarga tekanan darah tinggi dan kelompok lainnya. Hasil ini juga dinilainya penting agar masyarakat lebih peduli dengan lingkar perut.

Para ahli tak menampik pentingnya pengukuran berat badan. Hanya saja, angka tersebut tak bisa dijadikan patokan untuk menyebut seseorang dalam keadaan sehat. Berat badan hanyalah salah satu bagian dari pengukur kesehatan tubuh.

“Ya, berat badan memang hanya salah satu faktor risiko. Tekanan darah, kolesterol, tingkat aktivitas fisik dan kebiasaan merokok tak kalah pentingnya. Kondisi-kondisi tersebut juga merupakan faktor risiko penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes,” ujar Prof Mark Harris dari Centre for Obesity Management and Prevention di University of New South Wales, seperti dikutip dari ABC Australia.

Sumber : SharingAja.com

Leave a Reply