Apa itu Stress Kerja dan Cara Mengatasi?

• Stres kerja sebagai distress, yaitu perasaan-perasaan negatif yang tidak menyenangkan dan dapat mengganggu atau menghambat individu untuk berprestasi dalam kehidupan organisasi.

• Munculnya stres dapat disebabkan oleh adanya berbagai sumber stres, diantaranya: kepribadian, lingkungan, dan interaksi antara kepribadian dan lingkungan.

• Temuan berikutnya menunjukkan bahwa sumber stres kerja adalah interaksi hubungan yang tidak harmonis antara individu yang berkepribadian tipe A dan lingkungan kerjanya dalam organisasi, sehingga menimbulkan stres kerja (Ivancevich, Matteson & Preston, 1982; Hamel & Bracken, 1986, dalam Kirkcaldy, dkk., 2000).

• Kahn, dkk (1964) bahwa stres kerja timbul karena individu mengalami ketidakjelasan peran dan sasaran yang akhirnya mengarah pada ketidakpuasan kerja.

• Beban peran mempunyai pengaruh lebih besar dibandingkan dengan ketidakjelasan peran maupun konflik peran terhadap munculnya stres kerja dalam organisasi.

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB

Situasi atau peristiwa tersebut dapat terjadi karena:

1. beban peran yang dialami oleh manajer madya terlalu banyak terfokus pada sebagian individu saja;

2. keseimbangan system pengaturan kerja masih belum merata dan beban kerja terlalu berpusat pada manajer madya;

3. beban peran yang dihadapi individu mengarah pada beban psikis dan beban fisik.

4. Beban psikis kerja dan beban fisik kerja berbeda tetapi memisahkan keduanya hampir tidak mungkin.

Singleton (1989) yang menyatakan bahwa beban psikis kerja (psychology workload) dan beban fisik kerja (physical workload) mempunyai ciri-ciri umum yang sama, seperti: kerja keras, tanggung jawab yang besar, baik pekerjaan itu dikerjakan secara manual atau menggunakan kemampuan intelektual.

Singleton (1989) juga menjelaskan bahwa beban psikis biasanya dianggap sebagai stressor.

ANALISIS PENGARUH SHIFT KERJA TERHADAP BEBAN KERJA MENTAL

• Pengukuran beban mental dibagian pengisian dan pengemasan PT. Sari Husada Tbk Yogyakarta. PT. Sari Husada Tbk Yogyakarta

• Tujuan meningkatkan keterampilan karyawan dengan menetapkan sistem pergiliran kerja.

• Menetapkan 5 hari kerja dengan setiap harinya dibagi menjadi 3 shift.

• Metode SWAT → metode pengukuran secara subjektif didasarkan pada persepsi pekerja, dengan kombinasi tiga dimensi dengan tingkatannya yaitu beban waktu, beban usaha mental dan beban tekanan  psikologis.

• Penerapan SWAT → penskalaan subjektif sederhana dan mudah dilakukan untuk mengkuantitatifkan beban kerja dari aktivitas yang harus dilakukan oleh pekerja.

• SWAT menggambarkan system kerja sebagai model multidimensional dari beban kerja, yang terdiri dari tiga dimensi atau faktor yaitu beban waktu (time load), beban mental (mental effort load, dan beban psikologis (psychological stress load).

• Pengukuran beban kerja mental dilakukan dua cara yaitu secara objektif dan subjektif

• Objektif → beberapa anggota tubuh: denyut jantung, kedipan mata dan ketegangan otot.

• Subjektif → paling banyak digunakan → tingkat validitas tinggi → langsung dibandingkan dengan     pengukuran lain

• Tujuan subjektif → menentukan skala pengukuran terbaik berdasarkan perhitungan eksperiman.

• Psikologi kerja membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kejiwaan yang dijumpai pada tempat kerja yaitu yang menyangkut dengan faktor-faktor diri.

• Ketidakcocokan pekerjaan → timbulnya stres atau frustasi → rendahnya produktifitas, dan rendahnya mutuhasil kerja, serta tinggi tingkat kecelakaan kerja.

• Kerja manusia: fisik dan mental → intensitas yang berbeda-beda.

• Dimensi secara definisi, yaitu (Suhanto,1999):

1. Time Load: jumlah waktu yang tersedia dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring tugas.

2. Mental Effort Load: menduga atau memperkirakan seberapa banyak usaha mental dalam perencanaan melaksanakan suatu tugas.

Psychological Stress Load: mengukur jumlah resiko, kebingungan, frustasi yang dihubungkan dengan performansi atau penampilan tugas.

Hasil penelitian menyebutkan  bahwa :

• Kondisi beban kerja antara ketiga shift mempunyai perbedaan secara nyata.

• Nilai beban kerja dari SWAT score:

1. Shift pagi → kategori rendah

2. Shift sore → kategori rendah dan sedang

3. shift malam → beban kerja kategori sedang.

• Secara keseluruhan pekerja lebih mementingkan faktor waktu (39,08%), kemudian tekanan stress (33,21%) dan terakhir usaha mental (27,71%) dalam mempertimbangkan faktor beban kerja mental.

• Dapat disimpulkan: Faktor waktu  merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap keadaan beban kerja mental.

 

(Sumber : berbagai sumber)

Leave a Reply